Memahami Akar Persoalan Umat Islam Kontemporer
Memahami
Akar Persoalan Umat Islam Kontemporer
Alhamdulillah al
awwalu bilaa ibtida wal akhiru bila intiha, jammi’u sifaatil ulya wal izzati
wal kibriya. Wa solatu wasalamu ala imami ahli sofa wal wafa sayyidina wa
maulana Muhammadin qutbil anbiya wal auliya, khoiri dawaa’, rohmatan wa syifa’,
fii sirri wal jila, wa ala alihi wa shohbihi maa daamatil ardhu wassamaa’ amma
ba’du
Pada perjanjian
hudaibiyah, Kaum Muslimin sepakat untuk gencatan senjata dengan kaum kafir
quraisy. Dengan adanya gencatan senjata tersebut, masyarakat bisa lebih tenang
dan bisa berfikir serta berdiskusi mengenai perbandingan antara agama Islam
yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan agama lama kaum kafir quraisy yang
menyembah banyak dewa (polytheisme). Dengan berfikir jernih dalam suasana damai
masyarakat dapat menerima kebenaran Islam karena Islam sejatinya masuk akal
dibandingkan agama dan kepercayaan yang lain.
Sejak saat itu
kebenaran Islam yang sangat logis mulai meluas di masyarakat dunia dan menjadi
go international. Praktik-praktik kekejaman yang dulu ada seperti penyiksaan, perbudakan,
penghambaan kepada manusia, penindasan dan sebagainya mulai berkurang dengan
datangnya cahaya Islam. Bahkan cahaya Islam yang Ilmiah masuk ke jantung budaya
yunani dan romawi di eropa melalui kerajaan Islam di Andalusia.
Eropa mulai mengadopsi ajaran-ajaran Islam dari sisi filosofinya, sufisme, rasionalisme dll akan tetapi secara teologis tidak mengadopsinya. Ajaran dan pemikiran Ibnu SIna, Ibnu Rusyd, Jalaludin Rumi, Al Ghazali, dll dikombinasikan dengan filsafat ala eropa seperti eksistensialisme, pragmatisme, positivisme, dan lain sebagainya atau setidaknya telah menginspirasi eropa untuk membangun budaya ilmiah dan filosofi mereka sendiri.
Bukan hanya teologi
barat yang mengalami perkembangan ini tetapi juga teologi di belahan timur
dunia. Perjumpaan budaya mongol dengan Islam juga ikut mempengaruhi budaya
teologis di dunia timur. Perilaku etis dari orang muslim ikut mempengaruhi
bangunan filosofi timur selain juga yang disebarkan oleh orang eropa di china
dan jepang beberapa abad sesudahnya. Jadi keluhuran filosifi Islam
disebarluaskan secara tidak langsung oleh eropa pada saat era kolonialisme
meskipun filosofi itu tidak disertai dengan teologi Islam.
Pada era sekarang,
masyarakat dunia sulit mencari contoh yang baik dari praktik filosofis
keluhuran etika muslim. Ketika orang menunjuk arab sebagai contoh peradaban
muslim yang luhur, justru yang terlihat adalah masyarakat yang suka perang dan
berebut kekuasaan. Jauh dari budaya ilmiah yang dikembangkan pada masa keemasan
Islam. Masyarakat agak kesulitan mencari dimana dan oleh negara mana praktik
keislaman yang rahmatan lil alamin dipraktikan. Bahkan image Islam sering
dikaitkan dengan teroris dan jihadis yang direpresentasikan oleh ISIS maupun Al
Qaeda.
Hal ini tentu
kontraproduktif dengan dakwah keislaman yang seharusnya penuh kedamaian. Karena
dalam kondisi damai dan suasana yang fair, maka ajaran Islam akan mudah
diterima secara rasional sebagai sebuah kebenaran. Baik kebenaran secara teologis
maupun kebenaran filosofis, rasional, dan etis. Meskipun sekarang kebenaran
teologis dari semua agama di dunia juga mendapat “serangan” dari ilmuwan atheis
yang menganggap bahwa kebenaran dan etika dapat diperoleh dengan akal tanpa
bantuan teologi. Hal ini disebabkan karena mereka muak dengan peperangan dan
pertikaian atas nama perbedaan religi tersebut sehingga mereka mencari
kebenaran alternatif di luar kebenaran teologis dan mereka menemukannya pada
kebenaran logis.
Sebenarnya Islam mendapat jaminan untuk selalu aktual dan luhur serta cocok di setiap zaman dan di semua tempat. Al Islam Yu’la wala yu’la alaih. Al Islam solih likulli zaman wa makan. Akan tetapi mungkin kaum muslimin sendiri yang mempraktikan kekerasan dan tidak menampilkan wajah damai seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Baerangkali ini yang perlu menjadi perhatian cendekiawan muslim dan para ulamanya.
Dalam
setiap seratus tahun sekali akan muncul pembaharu Islam (mujadid) yang akan
menunjukan kembali keunggulan Islam baik dari sisi teologis, filosofis, etis,
dan mungkin juga secara politis. Terdapat dalil dari hadis Abu Daud ,Hakim,dan Baihaqi:
“Sesungguhnya Allah akan
mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan
memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun”
Banyak tokoh yang
diduga merupakan representasi dari mujadid tersebut meskipun terkadang mujadid
tersebut diterima oleh salah satu kelompok namun di tolak oleh kelompok
lainnya.
Abad pertama Hijriah ada Umar
Bin Abdul Aziz .Beliau merupakan seorang khalifah pada masa dinasti Bani Umayyah.
Beliau merupakan seorang imam yang faqih, mujtahid, zuhud, banyak beribadah.
keadilan dan kezuhudannya sering dijadikan contoh. imam Al-baqir mengatakan
orang mulia dari bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz.
Abad kedua hijriah ada Muhammad bin Idris As-Syafi’i, nama beliau mungkin tidak asing lagi ditelinga kita. Beliau merupakan pendiri mazhab Syafi’i. beliau dilahirkan di Gazza, Pelaestina tahun 150 H dan wafat pada 204 H di mesir.
Abad ketiga ada Qadhi Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij Al Baghdadi dan di Abad Keempat Hijriah ada Syaikh Abu Hamid Ahmad bin Muhammad Al- Isfirayini (344-406), guru besar thariqah orang orang Irak, seorang hafizh mazhab, dan cendikiawan umat. Ada juga yang berargumen bahwa meujadid abad keempat adalah Abu sahl bin Sulaiman Ash- Shuluki ( 296-369). Beliau imam yang lahir dalam bidang Fikih, tafsir, bahasa, syair, sastra, tauhid, tashawuf dan lain lain.
Abad kelima Hijriyah ada abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali (450-505) yang dikenal dengan Hujjatul Islam. Seorang yang sangat alim dalam kalangan umat dan pemimpin para imam. Karyanya sangat banyak dan merata dengan segala fan ilmu, tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah Ihya Ulumuddin.
Abad ke enam Hijriah ada imam Abu Qasim Abdul Karim bin Muhammad Ar Rafi’i. dalam mazhab syafii beliau merupakan seorang mujtahit tarjih, yaitu seorang yang mampu mengklarifikasikan mana pendapat kuat dari imam mazhab. Diantara karyanya adalah Muharrar, Fathul Aziz dan lain lain.
Abad ketujuh hijriah ada Taqiyuddin muhammad bin ali bin wahab atau dikenal
dengan daqiqil aid (625-702 H). beliau adalah seorang imam dalam 2 mazhab,yaitu
mazhab maliki dan syafie. Bahkan beliau mencapai derajat seorang mujtahid.
Abad kedelapan hijriyah ada Sirajuddin umar bin ruslan al-bulqini dan di abad kesembilan hijriah ada Syaikhul islam Abu zakaria al-anshari(833-926 H).termasuk imam dan tokoh termuka pada masanya.beliau belajar kepada ibnu Hajar al asqalani,sedangkan ibnu hajar al haitami merupakan muridnya.karena itu beliau berkata “Aku terketuk antara dua hajar”.Ada yang berpendapat mujaddid abad kesembilan adalah jalaluddin abdurrahman bin abu bakar as-sayuthi (849-911 H).beliau nemiliki keunggulan dalam sebagian besar ilmu-ilmu ke islaman dan mencapai derajat mujaddid.karya nya lebih dari 700 karangan.
Abad kesepuluh hijriah ada Syamsuddin muhammad bin ahmad Ar-ramli(919-1004H).di zaman nya beliau adalah ahli fiqh di mesir dan sebagian tempat sandaran dalam fatwa,hingga di gelar dengan syafie kecil.Diantara karya beliau yang terkenal adalah Nihayatul muhtaj syarh Minhaj.
Abad kesebelas hijriah ada Sayyid abdul qadir bi abu bakar Al-aydrus, ada yang berpendapat bahwa mujaddid abad ke sebelas yaitu sayyid muhammad bin rasul Al-barzanji.
Abad kedua belas hijriah ada syihabuddin ahmad bin umar Ad-dayrabi.ada yang berpendapat yaitu Habib abdullah bin alwi al-haddad(1044-1132 H),penyusun ratib al haddad yang sangat terkenal.beliau tokoh yang sangat terkemuka di tarim hingga ke luar tarim,beliau tidak dapat melihat,sehingga saat mengarang,beliau mendiktekan karangannya.
Abad ketiga belas hijriah ada Syaikh Abdullah bin hijazi as-syarqawi (1150-1227 H), beliau merupakan syaikh Al-azhar dan tokoh panutan pada masanya sehingga murid-murid nya tersebar di berbagai belahan dunia. Sedangkan di abad ke empat belas hijriah masih diperdebatkan tetapi ada yang mengatakan bahwa mujadid di era ini adalah sayyid muhammad bin alwi Al-maliki Al-hasani, sang mutiara ilmu di tanah haram.
Siapapun mujadid yang dipercaya oleh kaum muslimin. Hendaknya disepakati terlebih dahulu bahwa sosok mujadid haruslah diterima oleh sebagian besar kaum muslimin. Karena umat Islam tiak akan bersepakat dalam kesesatan. Selain itu, mujadid tersebut tentu harus memperjuangkan seluruh kaum muslimin dan bukan hanya kelompok atau golongannya saja. Disamping itu, sosok mujadid tersebut harus menyerukan persatuan umat Islam dan tidak membuat perpecahan di kalangan muslim disamping juga memiliki akhlak yang luhur budi pekerti yang halus dan lembut sebagaimana akhlak Rasulullah SAW.
Di kalangan umat Islam kontemporer, umat masih beruntung dengan adanya teladan semisal Habib Umar Bin Hafidz Yaman, Habib Ali Al Jufri, Habib Lutfi Bin Yahya, Gus Bahaudin Nursalim, dan lain sebagainya yang memiliki keilmuan yang mendalam serta wawasan yang luas untuk kemaslahatan kaum muslimin. Hendaknya kita dapat mencontoh dan meneladani mereka serta bersatu dalam menjaga ukhuwah Islamiyah dalam bimbingan dan nasehat dari para tokoh pemersatu umat. Siapapun ustad atau ulama dan habaib yang kita ikuti hendaknya kita dapat meneladani secara konsisten dan mengamalkan ajarannya. Serta harus disepakati bahwa tokoh yang kita ikuti adalah yang memiliki semangat yang sama dalam membangun persatuan dan ukhuwah Islamiyah, menguasai keilmuan Islam secara mendalam, berakhlakul karimah, mempersatukan umat dan tidak memecah belah.
Dengan mengikuti para tokoh pemersatu umat tersebut diharapkan akan muncul generasi muslim yang rahmatan lil alamin dan menampilkan wajah damai, cinta ilmu, berakhlak dan beretika yang luhur, berbudaya ilmiah sehingga dapat menjadi hujjah bagi dunia bahwa Islam memang cinta damai dan cinta pengetahuan dan suka kemajuan peradaban. Disamping itu juga dapat menjadi hujjah bagi kaum atheis bahwa agama memang diperlukan karena akal tanpa agama akan buta dan agama tanpa akal akan lumpuh. Inilah harapan kita bersama yang semoga akan membawa perubahan dunia ke arah yang lebih baik.
Bogor, malam ketujuh ramadhan
1443 Hijriyah
Komentar
Posting Komentar